Negeriku, Bangsaku,
Mimpiku
Negeriku, negeri yang konon katanya gemah ripah loh jinawi. Negeri yang
ramah dan bersahaja. Negeri yang mempunyai berjuta budaya. Tarian, lagu,
bahasa, dan curang. Curang memang bukan budaya, tapi sudah membudaya. Buktinya?
Lihat saja generasi muda sekarang. Mereka pikir nilai komulatif adalah tolak
ukur kualitas seseorang. Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran mereka yang
mirip gorong-gorong di depan rumahku itu. Ngomong-ngomong soal nilai, aku lebih
suka menyebutnya gengsi ketimbang prestasi. Benar saja, mereka mendapatkan
nilai tinggi dengan kecurangan. Mungkin nilai mereka tinggi tapi mereka tidak
punya daya saing di masa depan. Bukan sok bijak, aku hanya mengkhawatirkan
kelangsungan negeri ini. Selain itu aku adalah potret kepiluan warga negara dicemooh
karena cinta tanah air. Tertawalah sebelum itu dilarang.
Setiap hari saat aku menonton
saluran berita, aku terkikik geli sekaligus prihatin. Di pusat kota,
jalan-jalan arteri, di kantor pemerintahan, bahkan di sekolah banyak manusia
berkumpul entah untuk menyerukan keadilan atau tawuran. Mereka pikir mereka
hebat dengan berdiri di depan gerbang setinggi empat meter itu berkoar tentang
hak asasi manusia. Mereka menuntut hak mereka lantas menerobos hak orang lain.
Adil? Tentu, menurut mereka. Semua orang
di dunia ini harus menjadi egois untuk tetap bartahan hidup.
Manusia-manusia angkuh yang berjalan
angkuh di koridor depan kelas itu adalah teman-temanku. Tidak seharusnya aku di
sini untuk dicemooh dan dikucilkan. Memang, aku hanya anak biasa dari keluarga
sederhana yang dengan sombong tidak mau mencontek. Tapi aku bangga dengan
nilaiku yang tidak genap kepala delapan meskipun mereka memamerkan nilai
sempurna hasil wangsit dari mbah Google.
Setidaknya aku masih punya “teman”
untuk diajak bicara. Persoalan klasik, mereka mendekat saat akan ada ulangan.
Hanya Shania, Aile, dan Yosa yang benar-benar ingin berteman denganku. Yang
lain, entahlah. Mereka bilang aku ini aneh. Aku memang membantu mereka, yah
memberikan jawaban. Tapi aku tetap tidak mau mencontek.
“Hei, Dit. Masih betah remidi aja.
Sekali-kali nyontek kenapa.” Celetuk Agni.
“Mau ngalahin Jokowi kali.” Ido
menambah pedas tamparan Agni.
Setiap kali mereka berkata seperti
itu, sebenarnya aku ingin melemparkan sepatuku. Apa hubungannya dengan Jokowi? Tapi
aku cuma kaum marginal tak berdaya. Ido seorang anak dosen terkenal, Agni yang
turun temurun sudah kaya, dan Dito si anak gembala. Terkadang aku meratapi
nasib. Kenapa aku harus terlahir sebagai Dito yang kurus kering keriting,
bukannya Agni Agastya Wisnu. Ah sudahlah, mungkin Tuhan menakdirkanku seperti
ini untuk mengenalkanku asam manis hidup ini.
Hargailah hidup yang kau miliki hari
ini. Syukurilah kau masih bisa mengennyangkan perutmu tanpa harus mandi
keringat atau menjaga toko haji Muhidin. Syukurilah kau tidak perlu berjalan
sejauh tiga kilo meter untuk menghemat uang saku. Atau mungkin lebih dramatis
dari itu, tetap syukurilah. Setidaknya kita tidak makan dari ludah penjajah.
***
Beberapa anak kecil seusia adikku
berlarian di trotoar. Mereka tertawa riang bersama tawa sang surya. Bahkan baju
mereka yang dibasahi keringat sudah kering. Mereka menghapiri orang yang
terpaksa berhenti di lampu merah meminta recehan untuk melanjutkan hidupnya.
Dadaku sesak, tenggorokanku seakan dicekik karena menahan air mata. Apakah
mereka benar-benar tertawa di sana? Apakah mereka tidak ingin menikmati
indahnya berteman, mengerjakan PR, dan dipuji guru?
Tidak pernah habis pikir dengan
orang-orang yang dengan bangganya melenggang di mall dan memamerkan barang yang
mereka beli disana tanpa memperdulikan saudara kita yang senasib dengan
anak-anak itu. Seperti sahabatku yang sedang mengendarai mobil ini, Shania.
Sejak pagi dia berkoar tentang her newest
branded limited edition bag.
“Dit, bagus nggak?” Shania
menunjukkan tas barunya. Lebih tepatnya menunjukkan merk dari benda berwarna pink norak itu. Aku hanya bisa
menganggukkan kepala. Jika aku mengatakan apa yang aku pikirkan pasti dia akan
menyanggahnya dengan alasan kepuasan batin. Alasan macam apa itu? Mengahmburkan
uang hanya untuk barang yang hanya bisa disombongkan? Absurd. Everything in their
mind just about theirself. Memang benar di dunia ini semua orang itu egois
tapi hilanglah karakter Pancasila kalau begini caranya.
Andai saja aku seorang presiden,
atau setidaknya menteri pendidikan aku akan memberlakukan kembali pendidikan
moral pancasila ke dalam kurikulum pendidikan. Sekarang Pancasila hanya sebagai
simbol. Bayangkan, andai Ir. Soekarno masih hidup betapa galaunya beliau
melihat wajah bangsa saat ini. Kesenjangan sosial semakin terlihat jelas. Yang
kaya semakin kaya, yang miskin semakin melarat. Orang miskin seakan tidak punya
masa depan. Semua tergantung seberapa tebal dompet anda. Sekolah, berobat,
bahkan operatorpun menerapkan asas semacam itu. Bagaimanapun juga tidak ada
yang bisa disalahkan atas semua itu.
Shania, Aile, Yosa. Sahabatku,
masihkah kalian perduli dengan negeri ini? Masihkah kalian kekeuh bertahan
meskipun sudah jelas-jelas terperosok? Apa arti sumpah pemuda bagi kalian? Hari
kebangkitan nasional? Pancasila? Apa kalian mau Indonesia hanya bertahan
seratus tahun saja? Di Afrika harus
berani mati untuk bisa menemukan jati diri. Di Indonesia tidak. Hanya
bermodal keperdulian sudah bisa merubah nasib negeri ini. Perduli itu tidak
sulit dan tidak menyulitkan.
“Yakin nggak mau ikut kita?” Aile
menanyakan hal itu untuk kesekian kalinya.
“Ai, sudah berapa kali pertanyaan
itu kamu tanyakan dan berapa kali sudah aku jawab?”
“Sekali-kali nggak ke SLB kenapa?”
“Lalu siapa yang membantu ibuku?”
Tidak ada sanggahan setelah itu.
Aile mengangguk diikuti suara mesin mobil Shania dinyalakan. Setelah bersalaman
dengan Yosa aku berlari menuju gedung SLB. Mungkin bagi kalian SLB bukan tempat
yang menarik. Tapi bagiku ini tempat bersyukur paling menakjubkan. Aku selalu
bahagia saat bertemu dengan murid-murid ibu. Mereka belajar dengan semangat
yang seakan dapat membakar dunia. Tidak sedikit orang yang mengacuhkan mereka
dan menyebut mereka cacat. Aku lebih suka menyebut mereka anak berkebutuhan
khusus. Sebetulnya mereka hebat. Sungguh. Belum tentu seorang pelukis bisa
melukis menggunakan kaki. Tapi aku melihatnya di sini, melukis menggunakan
kaki.
Di sana ibuku sedang mengajarkan
anak tunanetra menyanyi dan membaca puisi, menngajarkan anak tunarungu dan
tunawicara melukis. Dan di kelas satunya lagi. Entah siapa itu. Tapi remaja
putri itu beberapa hari ini membantu ibu mengajar. Aku suka saat ia menggerak-gerakkan
tangannya mencoba berbicara dengan bahasa isyarat. Sangat lancar. Meskipun aku sering membantu ibu, tapi aku
belum pernah membantu beliau mengajar. Tersandung masalah komunikasi.
“Heh. Kenapa kamu berdiri di depan
pintu? Mau jadi patung selamat datang?”
“Eh Ibu, enggak kok.”
“Oalah, Ibu tahu. Itu namanya Dea.
Dia membantu mengajar di sini tanpa dibayar.”
SLB ini kekurangan tenaga dan
fasilitasnyapun masih terbatas. Hanya ada enam rungan di gedung ini. Itupun
harus dibagi SDLB, SMPLB, dan SMALB jadi ada yang masuk pagi dan ada yang masuk
di saat matahari tepat di atas ubun-ubun. Jangan tanya soal komputer. Jelas
belum ada.
“Bu, masih ada jam mengajar kan?
Nggak buru-buru pulang, kan?”
“Bilang saja mau kenalan sama Dea.
Iya, kan?”
“Kok tahu?”
“Ya sudah, sana. Tapi tunggu bel
dulu.”
***
Sekolah. Tempat paling memuakkan.
Aku bosan harus bertemu dengan ocehan tidak berguna Agni dan Ido. Kenapa mereka
terus saja mencemooh usahaku memajukan negeri ini? Apa salahnya mengajar di
SLB? Toh aku tidak mengharapkan bayaran dari
mereka.
“Hei pak guru, ajari kita bahasa
isyarat. Lumayan kan bisa bermanfaat waktu ulangan.” Tawa Agni mengoyak
kesabaranku. “Ada-ada saja kamu ini. Mana bisa memajukan negara? Sekolah saja
belum benar sudah mikir negara. Cita-cita itu dokter, presiden, atau menteri
bukannya yang mustahil seperti itu.”
Tuhan,
buat aku tuli agar tidak lagi mendenagar tawa menyakitkan mereka. “Diam!
Terserah kalian menganggapku apa saja. Tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan
mengizinkan.”
“Tapi
nyatanya sampai sekarang belum ada perubahan, kan?”
“Itu
karena masih banyak orang sepertimu. Lihat saja nanti, akan aku buktikan bukan
hanya pada kalian tapi pada seluruh dunia.”
“Turun,
Dit! Turun! Mimpi jangan terlalu tinggi.”
Hampir
saja aku menjejalkan sepatu ke mulutnya. Tidak ada yang menghargai usahaku di
sini. Memangnya orang-orang berduit saja yang boleh bermimpi? Semua orang
berhak bermimpi, apapun itu. Lihat saja, akakn aku buat mulut busuk mereka
menganga nanti. Daripada telingaku semakin merah lebih baik aku bergegas menuju
SLB.
Masih ingat dengan Dea? Aldera
Septiananta Yanuar. Darimana bisa dipanggil “Dea”? Apapun itu tidak penting. Ternyata
Dea tipikal orang yang supel, mudah akrab tanpa sok akrab, dan humoris. Tapi
siapa yang tahu dibalik itu semua ternyata ujian yang diberikan Tuhan untuknya
sangat berat. Orang tuanya bercerai, ibundanya tuli dan bisu karena kecelakaan.
Itu yang menyebabkan ia di sini, untuk menghibur diri. Ia masih SMA. Setingkat
lebih tinggi dariku. Tapi ia sudah dibebani tanggung jawab besar. Ia menjual
kue buatannya di sekolah dan warung-warung kecil, menjadi guru les, dan menjual
tanaman hias. Semua dilakukan untuk melanjutkan hidup.
Hari ini aku akan mempelajar bahasa
isyarat dengan Dea. Bukan, ini bukan siasat untuk pendekatan. Tapi aku
benar-benar ingin membantu ibu bukan hanya membersihkan halaman sekolah atau
memainkan alat musik. Dea berdiri di depan gerbang SLB, ia tampak gelisah. “De,
kenapa di sini?”
“Nunggu ambulance.”
“Ha? Ada apa?”
“Lihat saja di belakang.”
Aku berlari ke gedung. Hancur. Apa
semalam gempa? Aku rasa tidak. Aku berlari lagi ke depan. “Apa yang terjadi?”
Dea menghembuskan nafas panjang.
Matanya berkaca-kaca. “Kan gedungnya sudah tua. Jadi wajar kalau roboh. Kamu
nggak tanya siapa yang luka-luka?”
“Eh iya lupa. Siapa?”
“Ibumu, dua guru, dan empat orang
murid.” Nadanya datar. Untuk ukuran keadaan seperti ini dia terlalu santai.
Satu, dua, tiga. “Ha? Ibuku?”
***
Otakku seakan meleleh. Sulit. Bukan
masalah mengangkat meja, kursi atau yang lain tapi masalahnya mereka belajar
dimana. Rumahku sempit, rumah Dea terlalu jauh, dan rumah guru yang lain juga
cukup jauh. Warga sekitar tidak mempunyai lahan yang cukup. Proposal
berkali-kali ditolak. Jangan dibawah pohon. Agni sepertinya senang melihatku
menderita. Aku tidak akan pernah melupakan kata-katanya tadi pagi.
“Sudah aku bilang, kan? Alam saja
tidak mendukungmu, bagaiman bisa terwujud?” dia mengatakan hal itu diikuti tawa
puas. Kata-katanya menusuk telingaku. Bukan hanya terlalu pedas, tapi suaranya
juga juga sumbang, cempreng, buruk.
“Bagaimana, De?”
“Entahlah.”
“Menunggu pemerintah? Terlalu lama.
Mereka butuh sekolah.”
“Sepertinya memang harus di bawah
pohon, Dit.”
“Panas, berdebu, tidak layak. Kamu
tega?”
“Apa hendak dikata?”
Aku tidak tahu apa motif mereka
menolak permohonan kami. Kebanyakan menggunakan alasan tidak cukup ruang.
Parahnya, ada yang menanyakan berapa kami bisa membayar uang sewa. Gila. Rasa
kemanusiaan mereka dimakan oleh kecintaan mereka pada uang. Tuhan, selamatkan
negeri ini.
Dea menepuk punggungku lembut. “Tidak
ada pilihan lain. Pohon di taman kota dekat sini lumayan besar. Mungkin cukup
untuk melindungi dari panas.”
“Tapi
kelas sisanya?”
“Harus dijadikan satu.” Dea
menatapku penuh keraguan. Dia saja ragu, apalagi aku?
“Tiga puluh orang, apa mungkin?”
“Tidak ada yang tidak mungkin.” Dea
tersenyum manis.
Benar apa katanya. Tidak ada yang
tidak mungkin, dan semua kemungkinan bisa terjadi. Selanjutnya menata tempat
dan mulai menebar ilmu. Menjadi pengajar itu mudah, tapi menjadi pendidik itu
susah. Di sini aku bisa menanamkan pendidikan moral pancasila. Langkah awal
menuju Indonesia yang lebih baik. Membangkitkan jiwa kesatria, mengenyahkan
virus egois, dan bersiap menggemparkan dunia dengan prestasi. Saatnya bangkit
dari “penjajah”.
***
Ternyata benar kata Dea, meskipun
hanya bernaung di bawah dedaunan kita bisa menjemput asa. Tidak lagi
menggunakan kata “seberapa tebal dompet anda”. Hanya perlu semangat dan
kesungguhan. Tidak sulit jika sudah dilalui. Sekarang bukan hanya anak-anak
berkebutuhan khusus saja yang belajar di “Pohon Ilmu”, tapi ada beberapa anak
jalanan yang akhirnya tertarik dengan sekolah istimewa ini. Meskipun tanpa
gedung, tapi semangat mereka masih sanggup membakar dunia. Andai saja
teman-temanku dulu seperti ini pasti Indonesia sudah berjaya.Tuhan yang
menentukan garis hidup kita, tapi kita punya kesempatan mengubahnya dengan
usaha. Untuk mencapai kesuksesan kita perlu hidup prihatin. Begitu kata ibu.
Kami berjuang bersama, saling memikul dan saling menegapkan yang lain.
Hidupku sekarang sulit, tapi tawa
mereka menguatkanku. Ibu masih mengajar meskipun dengan kursi roda. hanya kami
bertiga yang masih bertahan. Jangankan gaji, bantuan pemerintah untuk membangun
gedung yang layak saja belum ada apalgi gaji. Kami membiayai sekolah ini dari
penjualan kue dan karya anak-anak seperti lukisan dan kerajinan tangan. Kami
menjualnya dari pintu ke pintu. Memang tidak mencukupi, tapi kami berusaha
untuk menggunakannya seefektif mungkin.
“Dit, ini lukisan anak-anak. Mau
keliling?”
Dea
membawa beberapa lukisan hasil karya anak-anak tuna hasta. Mereka melukis
menggunakan kaki. Hebat, kan? Mereka mengerti hasil karya mereka akan dijual
untuk membiayai sekolah ini. Bahkan mereka menanyakan membutuhkan lukisan untuk
dijual atau tidak.
“Kak
Ditooo!” Soleh, salah satu anak jalanan yang belajar disini berlari sambil
membawa gitar kecil. Keringat membasahi bajunya. Ia mencoba mengtur nafasnya
untuk melanjutkan apa yang hendak dikatakannya. “Itu, Kak. Ada orang yang
semalam kita liat di tipi mencari kakak.”
“Tivi,
Leh. Buakn tipi.”
“Nggak
bisa, bisanya tipi. Itu orangnya.” Soleh menunjuk seorang pria berambut
keriting dan berkumis lebat yang berjalan mendekat. Orang tivi yang dimaksudkan
Soleh adalah seorang pembawa acara talk
show yang tadi malam kami tonton di rumahku. Ada apa ini?
***
Disini, di segmen terakhir talk show favoritku, aku duduk di sofa
empuk dan disorot oleh banyak kamera. Sekain lama aku hanya melihat pembawa
acara favoritku di televisi sekarang aku bisa bertatap muka dengannya. Meski
hanya beberapa menit, tapi aku lega bisa mengeluarkan semua pendapatku dan
keprihatinanku.
“Pertanyaan terakhir untuk Dito.
Disaksikan oleh berjuta pasang mata, adakah pesan yang ingin Anda sampaikan?”
“Saya ingin berpesan kepada
teman-teman saya bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Tidak perlu gedung mewah
atau uang yang banyak untuk bisa berprestasi dan memajukan bangsa ini. Semua
orang boleh bermimpi, hanya butuh keberanian untuk mewujudkannya.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar