Rabu, 30 Januari 2013

kalimat tanya restoris hanna

hilang?
aku tak mau mendengar kata "hilang"
karna aku tak mau kehilanganmu
menangis?
aku tak mau mendengar kata "menangis"
karna aku tak mau melihatmu menangis
jatuh?
aku tak mau mendengar kata "jatuh"
karna aku tak akan membiarkanmu jatuh
jatuh ke pelukan orang lain
sakit?
aku tak mau mendengar kata "sakit"
karna aku tak mau melihatmu sakit
melepas?
aku tak mau mendengar kata "melepas"
karna aku takkan pernah mau melepaskanmu
mengapa?
karna kau berharga untukku

Hanna


NB: coretan dari Hanna Nessa Rosalia, barisan puisi indah untuk menghibur bintang kejora :)

Selasa, 08 Januari 2013

"Coretan" Hati

Hari ini aku baru buka mata dan mulai menapaki hari baru dengan masalah yang sama. Selain tentang lomba, sebenarnya ada sesutu yang lebih banyak mendesak hati hingga mungkin jika sudah saatnya bendungan itu akan runtuh tergerus emosi. Percaya atau tidak, semalam aku berharap jadi orang lain. Bukannya tidak bersyukur, tapi aku tidak ingin melihat bidadariku menangis. Dewa yang seharusnya melindungi kami tapi ia mengiris hati dengan hati-hati.
Ah iya, masih ada tanda tanya besar yang tidak bisa dijawab dengan kurung buka dan titik dua seperti kata kak Dochi. Aku harus bagaimana? Di sisi lain aku mengagumi seseorang, tapi aku menginginkan orang lain untuk jadi pendampingku. Entahlah. ada yang punya ide?

Sabtu, 08 Desember 2012

Cerpen hasil kerja lembur untuk lomba tapi akhirnya belum lolos. Ya sudah, mungkin lebih berguna disini :D

Negeriku, Bangsaku, Mimpiku
            Negeriku, negeri yang konon katanya gemah ripah loh jinawi. Negeri yang ramah dan bersahaja. Negeri yang mempunyai berjuta budaya. Tarian, lagu, bahasa, dan curang. Curang memang bukan budaya, tapi sudah membudaya. Buktinya? Lihat saja generasi muda sekarang. Mereka pikir nilai komulatif adalah tolak ukur kualitas seseorang. Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran mereka yang mirip gorong-gorong di depan rumahku itu. Ngomong-ngomong soal nilai, aku lebih suka menyebutnya gengsi ketimbang prestasi. Benar saja, mereka mendapatkan nilai tinggi dengan kecurangan. Mungkin nilai mereka tinggi tapi mereka tidak punya daya saing di masa depan. Bukan sok bijak, aku hanya mengkhawatirkan kelangsungan negeri ini. Selain itu aku adalah potret kepiluan warga negara dicemooh karena cinta tanah air. Tertawalah sebelum itu dilarang.
            Setiap hari saat aku menonton saluran berita, aku terkikik geli sekaligus prihatin. Di pusat kota, jalan-jalan arteri, di kantor pemerintahan, bahkan di sekolah banyak manusia berkumpul entah untuk menyerukan keadilan atau tawuran. Mereka pikir mereka hebat dengan berdiri di depan gerbang setinggi empat meter itu berkoar tentang hak asasi manusia. Mereka menuntut hak mereka lantas menerobos hak orang lain. Adil? Tentu, menurut mereka.  Semua orang di dunia ini harus menjadi egois untuk tetap bartahan hidup.
            Manusia-manusia angkuh yang berjalan angkuh di koridor depan kelas itu adalah teman-temanku. Tidak seharusnya aku di sini untuk dicemooh dan dikucilkan. Memang, aku hanya anak biasa dari keluarga sederhana yang dengan sombong tidak mau mencontek. Tapi aku bangga dengan nilaiku yang tidak genap kepala delapan meskipun mereka memamerkan nilai sempurna hasil wangsit dari mbah Google.
            Setidaknya aku masih punya “teman” untuk diajak bicara. Persoalan klasik, mereka mendekat saat akan ada ulangan. Hanya Shania, Aile, dan Yosa yang benar-benar ingin berteman denganku. Yang lain, entahlah. Mereka bilang aku ini aneh. Aku memang membantu mereka, yah memberikan jawaban. Tapi aku tetap tidak mau mencontek.
            “Hei, Dit. Masih betah remidi aja. Sekali-kali nyontek kenapa.” Celetuk Agni.
            “Mau ngalahin Jokowi kali.” Ido menambah pedas tamparan Agni.
            Setiap kali mereka berkata seperti itu, sebenarnya aku ingin melemparkan sepatuku. Apa hubungannya dengan Jokowi? Tapi aku cuma kaum marginal tak berdaya. Ido seorang anak dosen terkenal, Agni yang turun temurun sudah kaya, dan Dito si anak gembala. Terkadang aku meratapi nasib. Kenapa aku harus terlahir sebagai Dito yang kurus kering keriting, bukannya Agni Agastya Wisnu. Ah sudahlah, mungkin Tuhan menakdirkanku seperti ini untuk mengenalkanku asam manis hidup ini.
            Hargailah hidup yang kau miliki hari ini. Syukurilah kau masih bisa mengennyangkan perutmu tanpa harus mandi keringat atau menjaga toko haji Muhidin. Syukurilah kau tidak perlu berjalan sejauh tiga kilo meter untuk menghemat uang saku. Atau mungkin lebih dramatis dari itu, tetap syukurilah. Setidaknya kita tidak makan dari ludah penjajah.
***
            Beberapa anak kecil seusia adikku berlarian di trotoar. Mereka tertawa riang bersama tawa sang surya. Bahkan baju mereka yang dibasahi keringat sudah kering. Mereka menghapiri orang yang terpaksa berhenti di lampu merah meminta recehan untuk melanjutkan hidupnya. Dadaku sesak, tenggorokanku seakan dicekik karena menahan air mata. Apakah mereka benar-benar tertawa di sana? Apakah mereka tidak ingin menikmati indahnya berteman, mengerjakan PR, dan dipuji guru?
            Tidak pernah habis pikir dengan orang-orang yang dengan bangganya melenggang di mall dan memamerkan barang yang mereka beli disana tanpa memperdulikan saudara kita yang senasib dengan anak-anak itu. Seperti sahabatku yang sedang mengendarai mobil ini, Shania. Sejak pagi dia berkoar tentang her newest branded limited edition bag.
            “Dit, bagus nggak?” Shania menunjukkan tas barunya. Lebih tepatnya menunjukkan merk dari benda berwarna pink norak itu. Aku hanya bisa menganggukkan kepala. Jika aku mengatakan apa yang aku pikirkan pasti dia akan menyanggahnya dengan alasan kepuasan batin. Alasan macam apa itu? Mengahmburkan uang hanya untuk barang yang hanya bisa disombongkan? Absurd. Everything in their mind just about theirself. Memang benar di dunia ini semua orang itu egois tapi hilanglah karakter Pancasila kalau begini caranya.
            Andai saja aku seorang presiden, atau setidaknya menteri pendidikan aku akan memberlakukan kembali pendidikan moral pancasila ke dalam kurikulum pendidikan. Sekarang Pancasila hanya sebagai simbol. Bayangkan, andai Ir. Soekarno masih hidup betapa galaunya beliau melihat wajah bangsa saat ini. Kesenjangan sosial semakin terlihat jelas. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin melarat. Orang miskin seakan tidak punya masa depan. Semua tergantung seberapa tebal dompet anda. Sekolah, berobat, bahkan operatorpun menerapkan asas semacam itu. Bagaimanapun juga tidak ada yang bisa disalahkan atas semua itu.
            Shania, Aile, Yosa. Sahabatku, masihkah kalian perduli dengan negeri ini? Masihkah kalian kekeuh bertahan meskipun sudah jelas-jelas terperosok? Apa arti sumpah pemuda bagi kalian? Hari kebangkitan nasional? Pancasila? Apa kalian mau Indonesia hanya bertahan seratus tahun saja? Di Afrika harus  berani mati untuk bisa menemukan jati diri. Di Indonesia tidak. Hanya bermodal keperdulian sudah bisa merubah nasib negeri ini. Perduli itu tidak sulit dan tidak menyulitkan.
            “Yakin nggak mau ikut kita?” Aile menanyakan hal itu untuk kesekian kalinya.
            “Ai, sudah berapa kali pertanyaan itu kamu tanyakan dan berapa kali sudah aku jawab?”
            “Sekali-kali nggak ke SLB kenapa?”
            “Lalu siapa yang membantu ibuku?”
            Tidak ada sanggahan setelah itu. Aile mengangguk diikuti suara mesin mobil Shania dinyalakan. Setelah bersalaman dengan Yosa aku berlari menuju gedung SLB. Mungkin bagi kalian SLB bukan tempat yang menarik. Tapi bagiku ini tempat bersyukur paling menakjubkan. Aku selalu bahagia saat bertemu dengan murid-murid ibu. Mereka belajar dengan semangat yang seakan dapat membakar dunia. Tidak sedikit orang yang mengacuhkan mereka dan menyebut mereka cacat. Aku lebih suka menyebut mereka anak berkebutuhan khusus. Sebetulnya mereka hebat. Sungguh. Belum tentu seorang pelukis bisa melukis menggunakan kaki. Tapi aku melihatnya di sini, melukis menggunakan kaki.
            Di sana ibuku sedang mengajarkan anak tunanetra menyanyi dan membaca puisi, menngajarkan anak tunarungu dan tunawicara melukis. Dan di kelas satunya lagi. Entah siapa itu. Tapi remaja putri itu beberapa hari ini membantu ibu mengajar. Aku suka saat ia menggerak-gerakkan tangannya mencoba berbicara dengan bahasa isyarat. Sangat lancar.  Meskipun aku sering membantu ibu, tapi aku belum pernah membantu beliau mengajar. Tersandung masalah komunikasi.
            “Heh. Kenapa kamu berdiri di depan pintu? Mau jadi patung selamat datang?”
            “Eh Ibu, enggak kok.”
            “Oalah, Ibu tahu. Itu namanya Dea. Dia membantu mengajar di sini tanpa dibayar.”
            SLB ini kekurangan tenaga dan fasilitasnyapun masih terbatas. Hanya ada enam rungan di gedung ini. Itupun harus dibagi SDLB, SMPLB, dan SMALB jadi ada yang masuk pagi dan ada yang masuk di saat matahari tepat di atas ubun-ubun. Jangan tanya soal komputer. Jelas belum ada.
            “Bu, masih ada jam mengajar kan? Nggak buru-buru pulang, kan?”
            “Bilang saja mau kenalan sama Dea. Iya, kan?”
            “Kok tahu?”
            “Ya sudah, sana. Tapi tunggu bel dulu.”
***
            Sekolah. Tempat paling memuakkan. Aku bosan harus bertemu dengan ocehan tidak berguna Agni dan Ido. Kenapa mereka terus saja mencemooh usahaku memajukan negeri ini? Apa salahnya mengajar di SLB? Toh aku tidak mengharapkan bayaran dari  mereka.
            “Hei pak guru, ajari kita bahasa isyarat. Lumayan kan bisa bermanfaat waktu ulangan.” Tawa Agni mengoyak kesabaranku. “Ada-ada saja kamu ini. Mana bisa memajukan negara? Sekolah saja belum benar sudah mikir negara. Cita-cita itu dokter, presiden, atau menteri bukannya yang mustahil seperti itu.”
Tuhan, buat aku tuli agar tidak lagi mendenagar tawa menyakitkan mereka. “Diam! Terserah kalian menganggapku apa saja. Tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan mengizinkan.”
“Tapi nyatanya sampai sekarang belum ada perubahan, kan?”
“Itu karena masih banyak orang sepertimu. Lihat saja nanti, akan aku buktikan bukan hanya pada kalian tapi pada seluruh dunia.”
“Turun, Dit! Turun! Mimpi jangan terlalu tinggi.”
Hampir saja aku menjejalkan sepatu ke mulutnya. Tidak ada yang menghargai usahaku di sini. Memangnya orang-orang berduit saja yang boleh bermimpi? Semua orang berhak bermimpi, apapun itu. Lihat saja, akakn aku buat mulut busuk mereka menganga nanti. Daripada telingaku semakin merah lebih baik aku bergegas menuju SLB.
            Masih ingat dengan Dea? Aldera Septiananta Yanuar. Darimana bisa dipanggil “Dea”? Apapun itu tidak penting. Ternyata Dea tipikal orang yang supel, mudah akrab tanpa sok akrab, dan humoris. Tapi siapa yang tahu dibalik itu semua ternyata ujian yang diberikan Tuhan untuknya sangat berat. Orang tuanya bercerai, ibundanya tuli dan bisu karena kecelakaan. Itu yang menyebabkan ia di sini, untuk menghibur diri. Ia masih SMA. Setingkat lebih tinggi dariku. Tapi ia sudah dibebani tanggung jawab besar. Ia menjual kue buatannya di sekolah dan warung-warung kecil, menjadi guru les, dan menjual tanaman hias. Semua dilakukan untuk melanjutkan hidup.
            Hari ini aku akan mempelajar bahasa isyarat dengan Dea. Bukan, ini bukan siasat untuk pendekatan. Tapi aku benar-benar ingin membantu ibu bukan hanya membersihkan halaman sekolah atau memainkan alat musik. Dea berdiri di depan gerbang SLB, ia tampak gelisah. “De, kenapa di sini?”
            “Nunggu ambulance.”
            “Ha? Ada apa?”
            “Lihat saja di belakang.”
            Aku berlari ke gedung. Hancur. Apa semalam gempa? Aku rasa tidak. Aku berlari lagi ke depan. “Apa yang terjadi?”
            Dea menghembuskan nafas panjang. Matanya berkaca-kaca. “Kan gedungnya sudah tua. Jadi wajar kalau roboh. Kamu nggak tanya siapa yang luka-luka?”
            “Eh iya lupa. Siapa?”
            “Ibumu, dua guru, dan empat orang murid.” Nadanya datar. Untuk ukuran keadaan seperti ini dia terlalu santai.
            Satu, dua, tiga. “Ha? Ibuku?”
***
            Otakku seakan meleleh. Sulit. Bukan masalah mengangkat meja, kursi atau yang lain tapi masalahnya mereka belajar dimana. Rumahku sempit, rumah Dea terlalu jauh, dan rumah guru yang lain juga cukup jauh. Warga sekitar tidak mempunyai lahan yang cukup. Proposal berkali-kali ditolak. Jangan dibawah pohon. Agni sepertinya senang melihatku menderita. Aku tidak akan pernah melupakan kata-katanya tadi pagi.
            “Sudah aku bilang, kan? Alam saja tidak mendukungmu, bagaiman bisa terwujud?” dia mengatakan hal itu diikuti tawa puas. Kata-katanya menusuk telingaku. Bukan hanya terlalu pedas, tapi suaranya juga juga sumbang, cempreng, buruk.
            “Bagaimana, De?”
            “Entahlah.”
            “Menunggu pemerintah? Terlalu lama. Mereka butuh sekolah.”
            “Sepertinya memang harus di bawah pohon, Dit.”
            “Panas, berdebu, tidak layak. Kamu tega?”
            “Apa hendak dikata?”
            Aku tidak tahu apa motif mereka menolak permohonan kami. Kebanyakan menggunakan alasan tidak cukup ruang. Parahnya, ada yang menanyakan berapa kami bisa membayar uang sewa. Gila. Rasa kemanusiaan mereka dimakan oleh kecintaan mereka pada uang. Tuhan, selamatkan negeri ini.
            Dea menepuk punggungku lembut. “Tidak ada pilihan lain. Pohon di taman kota dekat sini lumayan besar. Mungkin cukup untuk melindungi dari panas.”
“Tapi kelas sisanya?”
            “Harus dijadikan satu.” Dea menatapku penuh keraguan. Dia saja ragu, apalagi aku?
            “Tiga puluh orang, apa mungkin?”
            “Tidak ada yang tidak mungkin.” Dea tersenyum manis.
            Benar apa katanya. Tidak ada yang tidak mungkin, dan semua kemungkinan bisa terjadi. Selanjutnya menata tempat dan mulai menebar ilmu. Menjadi pengajar itu mudah, tapi menjadi pendidik itu susah. Di sini aku bisa menanamkan pendidikan moral pancasila. Langkah awal menuju Indonesia yang lebih baik. Membangkitkan jiwa kesatria, mengenyahkan virus egois, dan bersiap menggemparkan dunia dengan prestasi. Saatnya bangkit dari “penjajah”.
***
            Ternyata benar kata Dea, meskipun hanya bernaung di bawah dedaunan kita bisa menjemput asa. Tidak lagi menggunakan kata “seberapa tebal dompet anda”. Hanya perlu semangat dan kesungguhan. Tidak sulit jika sudah dilalui. Sekarang bukan hanya anak-anak berkebutuhan khusus saja yang belajar di “Pohon Ilmu”, tapi ada beberapa anak jalanan yang akhirnya tertarik dengan sekolah istimewa ini. Meskipun tanpa gedung, tapi semangat mereka masih sanggup membakar dunia. Andai saja teman-temanku dulu seperti ini pasti Indonesia sudah berjaya.Tuhan yang menentukan garis hidup kita, tapi kita punya kesempatan mengubahnya dengan usaha. Untuk mencapai kesuksesan kita perlu hidup prihatin. Begitu kata ibu. Kami berjuang bersama, saling memikul dan saling menegapkan yang lain.
            Hidupku sekarang sulit, tapi tawa mereka menguatkanku. Ibu masih mengajar meskipun dengan kursi roda. hanya kami bertiga yang masih bertahan. Jangankan gaji, bantuan pemerintah untuk membangun gedung yang layak saja belum ada apalgi gaji. Kami membiayai sekolah ini dari penjualan kue dan karya anak-anak seperti lukisan dan kerajinan tangan. Kami menjualnya dari pintu ke pintu. Memang tidak mencukupi, tapi kami berusaha untuk menggunakannya seefektif mungkin.
            “Dit, ini lukisan anak-anak. Mau keliling?”
Dea membawa beberapa lukisan hasil karya anak-anak tuna hasta. Mereka melukis menggunakan kaki. Hebat, kan? Mereka mengerti hasil karya mereka akan dijual untuk membiayai sekolah ini. Bahkan mereka menanyakan membutuhkan lukisan untuk dijual atau tidak.
“Kak Ditooo!” Soleh, salah satu anak jalanan yang belajar disini berlari sambil membawa gitar kecil. Keringat membasahi bajunya. Ia mencoba mengtur nafasnya untuk melanjutkan apa yang hendak dikatakannya. “Itu, Kak. Ada orang yang semalam kita liat di tipi mencari kakak.”
“Tivi, Leh. Buakn tipi.”
“Nggak bisa, bisanya tipi. Itu orangnya.” Soleh menunjuk seorang pria berambut keriting dan berkumis lebat yang berjalan mendekat. Orang tivi yang dimaksudkan Soleh adalah seorang pembawa acara talk show yang tadi malam kami tonton di rumahku. Ada apa ini?
***
            Disini, di segmen terakhir talk show favoritku, aku duduk di sofa empuk dan disorot oleh banyak kamera. Sekain lama aku hanya melihat pembawa acara favoritku di televisi sekarang aku bisa bertatap muka dengannya. Meski hanya beberapa menit, tapi aku lega bisa mengeluarkan semua pendapatku dan keprihatinanku.
            “Pertanyaan terakhir untuk Dito. Disaksikan oleh berjuta pasang mata, adakah pesan yang ingin Anda sampaikan?”
            “Saya ingin berpesan kepada teman-teman saya bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Tidak perlu gedung mewah atau uang yang banyak untuk bisa berprestasi dan memajukan bangsa ini. Semua orang boleh bermimpi, hanya butuh keberanian untuk mewujudkannya.”